Kamis, 03 Mei 2012

8 Sikap Membangun Masa Depan Cerah

       Ditulis pada hari Kamis, 22 Maret 2012 | 15:22 WIB

1. Punya tujuan hidup
Apa tujuan hidup anda?, anda harus tahu rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin anda lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, anda menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri
Anda tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, anda menanggung sendiri biaya hidup anda tanpa bantuan orangtua. Hal seperti ini menunjukkan bahwa anda bertanggung jawab atas hidup anda dan hidup orang yang anda sayangi. Anda juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena anda sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila anda termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu lanjutkan itu. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang anda bantu saat ini berperan penting dalam karier anda di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
Sikap anda yang bersahabat ditambah dengan wawasan luas anda biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan karier anda. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengan anda. Semakin banyak orang tertarik pada anda, semakin luas juga networking anda. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang anda miliki, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"
Bertanggung jawab dan menyayangi keluarga dan memerhatikan perkembangan karier. Anda harus selalu memotivasi diri anda untuk meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga anda. Selain itu, anda harus bisa menyeimbangkan waktu dan pikiran anda untuk keluarga dan pekerjaan anda.

6. Memiliki investasi
Saat ini gaji anda tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama anda bisa mengatur pendapatan anda dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila anda termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkan anda menjadi pengusaha sukses. Jika bisa, maka berinvestasi-lah, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan anda sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus
Meskipun anda bersemangat meraih mimpi anda, tetap amati bagaimana usaha anda meraih impian, jangan sampai anda menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depan anda. Ingatlah untuk tetap realistis dengan kemampuan yang anda miliki. Bila anda ahli dalam bidang teknologi informatika, anda tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat teman anda yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
Anda harus tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anda sehingga anda selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Anda jangan pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Anda harus selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, anda juga harus terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.


sumber :@BataraRayaMedia

Senin, 09 April 2012

Gelombang Dan Getaran

Rumus-Rumus Fisika Lengkap/Getaran, gelombang dan bunyi

Dari Wikibooks Indonesia, sumber buku teks bebas berbahasa Indonesia
Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

[sunting] Periode dan Frekuensi Getaran

[sunting] Periode Getaran

T=\frac{t}{n}

Dengan ketentuan:
  • \!T = Periode (sekon)
  • \!t = Waktu (sekon)
  • \!n = Jumlah getaran

[sunting] Frekuensi Getaran

\!f=\frac{n}{t}

Dengan ketentuan:
  • \!f = Frekuensi (Hz)
  • \!n = Jumlah getaran
  • \!t = Waktu (sekon)

[sunting] Periode Getaran

\!T=\frac{1}{f}

Dengan ketentuan:
  • \!T = periode getaran (sekon)
  • \!f = frekuensi(Hz)

[sunting] Hubungan antara Periode dan Frekuensi Getaran

Besar periode berbanding terbalik dengan frekuensi.
  • \!T=\frac{1}{f}
  • \!f=\frac{1}{T}
Dengan ketentuan:
  • \!T = periode (sekon)
  • \!f = frekuensi (Hz)

[sunting] Gelombang

[sunting] Gelombang berjalan

Persamaan gelombang:
y = A \sin 2\pi (ft \pm \frac {x} {\lambda})
Keterangan:
  • A: amplitudo (m)
  • f: frekuensi (Hz)
  •  \lambda : panjang gelombang (m
http://id.wikibooks.org/wiki/Rumus-Rumus_Fisika_Lengkap/Getaran,_gelombang_dan_bunyi

Sabtu, 25 Februari 2012

cara menyayangi bunda


Menumbuhkan Rasa Sayang pada Ibu” ketegori Muslim. Assalamualaikum.
Saya sangat tersiksa dan hati saya tidak pernah tenang selama hidup ini. Berbagai cara saya coba untuk bisa tulus menyayangi ibu saya. Saya selalu teringat akan perlakuan ibu kandung saya sejak kecil bu,
Sejak berusia 3 bulan sampai saya tamat SD, saya diasuh oleh nenek dari pihak ibu. Pas mau SMP saya baru tinggal dengan ibu dan ayah tiri saya. Nenek pun tak tahu siapa ayah kandung saya, dan saya pun tak berani bertanya pada ibu.
Sejak saya tinggal bersama ibu itulah penderitaan lahir batin dimulai. Ibu saya selalu menyiksa saya, Bu. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, kata-kata kasar ibu pada saat marah selalu menyebut saya anak haram, anak sial dan banyak lagi. Kalau isi kebun binatang sudah jadi santapan saya tiap hari. Penderitaan itu terus saya rasakan sampai kuliah. Sudah besarpun saya masih sering menerima pukulan ibu. Saya hanya bisa bersabar, karena saya ingin menyelesaikan studi saya. Ayah tiri saya cuek, Bu.
Suatu kali nenek pernah memergoki saya dalam keadaan babak belur, mata saya biru bengkak, rambut saya nyaris botak. Saya memang tidak pernah mengadu pada siapapun tentang perlakuan ibu. Saat itu kebetulan nenek datang dari kampung ingin menjenguk saya, karena nenek sangat sayang pada saya, maka nenek bermaksud mengambil saya kembali, tapi ibu murka bu. Bahkan nenek, kakek dan paman saya dilaporkan ke polisi. Ibu bisa bayangkan ibu saya berkelahi fisik dengan ortunya sendiri! Untungnya pihak kepolisian tidak memperpanjang masalah ini, karena dianjurkan berdamai saja. Ibu saya, menurut nenek saya dan memang saya rasakan sendiri, adalah anak satu-satunya dari 6 anak nenek yang paling nakal sejak kecil.
Sayapun diperlakukan bak PRT, Bu. Semua pekerjaan rumah saya yang mengerjakan.
Singkat kata, akhirnya setelah lulus kuliah, saya tidak ada jeda nganggur, begitu lulus, saya langsung kerja, alhamdulillah Allah mendengar do’a saya. Penghasilan saya terus meningkat bu, dan saya walau masih gadis sudah bisa beli rumah dan mobil. Sejak saya mandiri dan penghasilan saya bagus, kini ibu sangat baik sekali dan berubah 360 derajat. Nah, saat ini justru saya sangat dendam pada ibu saya. Di depan ibu, muka saya manis kadang juga sinis, tapi hati saya sebenarnya sangat benci.
Ayah tiri saya kini sudah pensiun, jadi ibu sering minta uang pada saya. Saya sih selalu ngasih, bu, tapi hati saya tidak ikhlas. Intinya saya benci dan sangat dendam pada ibu.
Tapi saya ingin sekali mencoba untuk bisa sayang dengan tulus dan ingin seperti teman-teman saya, bisa berpelukan dengan ibu, bisa curhat sama ibu. Hal itu belum pernah saya lakukan bu, hari raya saja saya hanya cium tangan saja, itupun hati saya masih saja tidak ikhlas.
Saya tahu menyimpan benci dan dendam adalah salah, tapi rasa itu tidak pernah bisa saya hilangkan. Ada dua kata yang selalu terngiang di telinga saya, yaitu saat ibu saya bilang bahwa saya anak haram dan anak sial.
Apakah saya termasuk anak durhaka, Bu? Saya ingin jadi anak yang berbakti pada ibu, tapi selalu tidak bisa. Saya harus bagaimana, Bu? Tolonglah saya.
WAssalamualaikum,
RN
Jawaban
Assalammu’alaikum wr. wb.
Saudari RN yang sholehah,
Perasaan sakit akibat perlakuan ibu yang demikian aniaya terhadap Anda pastilah tak mudah dihilangkan begitu saja. Karena di samping semua luka fisik yang pernah Anda rasakan maka yang paling sulit disembuhkan tentu adalah luka mental dan rasa trauma. Apa yang Anda rasakan kepada ibu adalah hal yang manusiawi, yaitu sulit merasakan cinta kepadanya.
Tentu saja perasaan cinta hanya dapat tumbuh melalui perlakuan yang juga disertai oleh cinta. Ibarat benih ia akan tumbuh sebagaimana perlakuan kita dalam merawatnya. Ketika ibu Anda tidak memperlakukan Anda dengan cinta maka Anda tak dapat disalahkan ketika perasaan tersebut terasa sulit ditumbuhkan.
Namun sebagaimana tumbuhan yang layu karena perlakuan yang buruk, tapi masih dapat di kembalikan keindahannya jika ada perbaikan dalam perawatannya. Memang tumbuhnya takkan seindah yang telah dirawat sejak awal, namun tetap masih ada yang dapat diperbaiki.
Mungkin begitu pula dengan perasaan anda, mungkin Anda tak bisa berharap untuk dapat mencintai ibu Anda sebagaimana teman-teman Anda yang dirawat dengan penuh kasih. Namun perlakuan baik Anda kepada ibu dan berusaha untuk tidak menyakitinya juga sudah merupakan sebuah usaha yang besar yang tentunya dinilai oleh Allah sebagai suatu bakti pada ibu anda.
Teruslah tumbuhkan kebaikan kepadanya, meski rasa sakit masih Anda rasakan. Dan berdo’alah kepada Allah agar mampu meluluhkan hati yang dingin, karena Allah yang memiliki hati tentu mampu merubah segalanya. Berhentilah untuk terus merasa bersalah, karena apa yang terjadi pada hidup Anda bukan sepenuhnya kesalahan anda. Tak banyak anak yang dianiaya yang mampu melawan rasa sakitnya untuk tetap berlaku baik kepada orang tua yang menganiayanya dan untuk ini saya angkat topi kepada Anda sebagai bentuk penghargaan atas usaha anda.
Yakini bahwa Anda seorang anak yang berharga dan Anda sudah membuktikannya dengan kehidupan yang Anda jalani saat ini. Ketika Anda membalas semua kekhilafan ibu dengan kebaikan maka hal tersebut menunjukkan betapa besar nilai Anda sesungguhnya sebagai seorang anak, mungkin lebih dari pada anak-anak lain yang dapat memberi kasih karena mereka juga dikasihi. Wallahu’alambishawab
Wassalammu’alaikum wr. wb.
Rr. Anita W.
Sumber Menumbuhkan Rasa Sayang pada Ibu : http://assunnah.or.id

Jumat, 10 Februari 2012

resep valentine ( kue bronis )


100 g tepung terigu

20 g cokelat bubuk

1/4 sdt soda kue

100 g gula palem

50 g gula pasir

2 butir telur ayam

2 sdm minyak sayur

125 g sour cream (krim asam) low fat

60 g dark cooking chocolate, lelehkan

60 g dark cooking chocolate, cincang



Cara membuat:

  • Siapkan loyang bentuk hati 18 cm atau 20 m. Semir mentega dan taburi sedikit tepung terigu.
  • Ayak tepung terigu, cokelat dan soda kue jadi satu.
  • Kocok gula, telur, krim asam dan minyak sayur hingga rata.
  • Tambahkan cokelat leleh, kocok rata.
  • Masukkan campuran terigu, aduk hingga rata.
  • Tuang ke dalam loyang, ratakan.
  • Taburi cokelat cincang. Panggang dalam ovenpanas 180C selama 35 menit.
  • Angkat, dinginkan.
Untuk 12 potong


Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Indonesian flag raised 17 August 1945.jpg
Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur lautSaigonVietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.
Pada tanggal 12 Agustus 1945Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.[1] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.
Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).
Indonesia flag raising witnesses 17 August 1945.jpg
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor BukanfuLaksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

[sunting]Peristiwa Rengasdengklok

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul SalehSukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

[sunting]Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh SoekarniB.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3](sekarang Jl. Proklamasi no. 1).

[sunting]Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo,WilopoGafar PringgodigdoTabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[5]

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

[sunting]Isi Teks Proklamasi

[sunting]Naskah Klad

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Wakil-wakil bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

[sunting]Naskah baru setelah mengalami perubahan

Di dalam teks proklamasi terdapat beberapa perubahan yaitu terdapat pada:
  • Kata tempoh diubah menjadi tempo
  • Kata Wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi Atas nama bangsa Indonesia
  • Kata Djakarta, 17-8-05 diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 08 tahun '05
  • Naskah proklamasi klad yang tidak ditandatangani kemudian menjadi otentik dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh.Hatta
  • Kata Hal2 diubah menjadi Hal-hal
Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

[sunting]Naskah Otentik

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapanproklamasi.
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-'05
Wakil2 bangsa Indonesia.

[sunting]Cara Penyebaran Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Berkas:Peristiwa Proklamasi dan Pemb NKRI 10.jpg
Gedung Menteng 31 yang digunakan sebagai tempat pemancar radio yang baru
Wilayah Indonesia sangatlah luas. Komunikasi dan transportasi sekitar tahun 1945 masih sangat terbatas. Di samping itu, hambatan dan larangan untuk menyebarkan berita proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah faktor yang menyebabkan berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah, terutama di luar Jawa. Namun dengan penuh tekad dan semangat berjuang, pada akhirnya peristiwa proklamasi diketahui oleh segenap rakyat Indonesia. Lebih jelasnya ikuti pembahasan di bawah ini. Penyebaran proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di daerah Jakarta dapat dilakukan secara cepat dan segera menyebar secara luas. Pada hari itu juga, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Domei (sekarang Kantor BeritaANTARA), Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara.
Meskipun orang Jepang tersebut memerintahkan penghentian siaran berita proklamasi, tetapi Waidan Palenewen tetap meminta F. Wuz untuk terus menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam sampai pukul 16.00 saat siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama Jusuf Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio Domei) ternyata membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, di antaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.
Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi juga dilakukan melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang. Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, misalnya dengan slogan Respect our Constitution, August 17!(Hormatilah Konstitusi kami tanggal 17 Agustus!) Melalui berbagai cara dan media tersebut, akhirnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Indonesia dan di luar negeri. Di samping melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi.

[sunting]Peringatan 17 Agustus 1945

Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah. Mulai dari lomba panjat pinanglomba makan kerupuk, sampai upacara militer diIstana Merdeka, seluruh bagian dari masyarakat ikut berpartisipasi dengan cara masing-masing.

[sunting]Lomba-lomba tradisional

Perlombaan yang seringkali menghiasi dan meramaikan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI diadakan di kampung-kampung/ pedesaan diikuti oleh warga setempat dan dikoordinir oleh pengurus kampung/ pemuda desa

[sunting]Peringatan Detik-detik Proklamasi

Peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka dipimpin oleh Presiden RI selaku Inspektur Upacara. Peringatan ini biasanya disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi. Acara-acara pada pagi hari termasuk: penembakan meriam dan sirene, pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih (Bendera Pusaka), pembacaan naskah Proklamasi, dll. Pada sore hari terdapat acara penurunan bendera Sang Saka Merah Putih.

[sunting]Rujukan

[sunting]Lihat pula

[sunting]Pranala luar